UNSUR-UNSUR INTRINSIK DRAMA
Unsur-Unsur Intrinsik
Unsur-unsur intrinsik drama adalah unsur-unsur pembangunan struktur yang ada di dalam drama itu sendiri. Unsur-unsur intrinsik drama menurut Akhmad Saliman (1996 : 23) ada 7 yakni : 1. Alur. 2. Amanat, 3. Bahasa, 4. Dialog, 5. Latar, 6. Petunjuk teknis, 7. Tema, 8. tokoh.
Alur menurut Akhmah Saliman (1996 : 24), alur adalah jaringan atau rangkaian yang membangun atau membentuk suatu cerita sejak awal hingga akhir. Urutan alur terdiri atas 5 fase, yakni : 1. Perkenalan, 2. Awal masalah, 3. Menuju klimaks, 4. Klimaks, 5. Penyelesaian.
Amanat
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 67) amant adalah segala sesuatu yang ingin disampaikan pengarang, yang ingin ditanakannya secara tidak langsung ke dalam benak para penonton dramanya.
Harimurti Kridalaksana (183) berpendapat amanat merupakan keseluruhan makna konsep, makna wacana, isi konsep, makna wacana, dan perasaan yang hendak disampaikan untuk dimengerti dan diterima orang lain yang digagas atau ditujunya.
Amanat di dalam drama ada yang langsung tersurat, tetapi pada umumnya sengaja disembunyikan secara tersirat oleh penulis naskah drama yang bersangkutan. Hanya pentonton yang profesional aja yang mampu menemukan amanat implisit tersebut.
Bahasa
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 68), bahasa yang digunakan dalam drama sengaja dipilih pengarang dengan titik berat fungsinya sebagai sarana komunikasi.
Setiap penulis drama mempunyai gaya sendiri dalam mengolah kosa kata sebagai sarana untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Selain berkaitan dengan pemilihan kosa kata, bahasa juga berkaitan dengan pemilihan gaya bahasa (style).
Bahasa yang dipilih pengarang untuk kemudian dipakai dalam naskah drama tulisannya pada umumnya adalah bahasa yang mudah dimengerti (bersifat komunikatif), yakni ragam bahasa yang dipakai dalam kehidupan kesehatian. Bahasa yang berkaitan dengan situasi lingkungan, sosial budyaa, dan pendidikan.
Bahasa yang dipakai dipilih sedemikian rupa dengan tujuan untuk menghidupkan cerita drama, dan menghidupkan dialog-dialog yang terjadi di antara para tokoh ceritanya. Demi pertimbangan komunikatif ini seorang pengarang drama tidak jarang sengaja mengabaikan aturan aturan yang ada dalam tata bahasa baku.
Dialog
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 98) dialog adalah mimetik (tiruan) dari kehidupan keseharian. Dialog drama ada yang realistis komunikatif, tetapi ada juga yang tidak realistis (estetik, filosopis, dan simbolik). Diksi dialog disesuaikan dengan karekter tokoh cerita.
Latar
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 66), latar adalah tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah drama. Latar tidak hanya merujuk kepada tempat, tetapi juga ruang, waktu, alat-alat, benda-benda, pakaian, sistem pekerjaan, dan sistem kehidupan yang berhubungan dengan tempat terjadinya peristiwa yang menjadi latar ceritanya.
Petunjuk Teknis
Petunjuk teknis adalah rambu-rambu yang sengaja dicantumkan oleh seorang penulis naskah drama sebagai penuntun penafsiran bagi siapa saja yang ingin mementaskannya.
Petunjuk teknis dalam naskah drama bisa berupa paparan tentang adegan demi adegan, profil tokoh cerita, latar cerita (tempat adegan) tata lampu, tata musik, tata panggung, dan daftar properti yang harus disiapkan.
Tema menurut WJS Poerwadarminta (185 : 1040) tema adalah pokok pikiran. Mursal Esten (1990) berpendapat tema adalah sesuatu yang menjadi pikiran atau sesuatu yang menjadi persoalan.
Seorang pengarang drama, sadar atau tidak sadar pasti menyampaikan amanat dalam dramanya. Amanat bersifat kias, subjektif, dan umum. Setiap orang dapat saja saling berbeda pendapat dalam menafsirkan amanat yang disampaikan pengarang drama.
Tokoh
Tokoh dalam drama disebut tokoh rekaan yang berfungsi sebagai pemegang peran watak tokoh. Itulah sebebanya istilah tokoh juga disebut karakter atau watak. Istilah penokohan juga sering disamakan dengan istilah perwatakan atau karakterisasi (tidak sama dengan karakteristik) (Saliman : 1996 : 32).
Menurut Akhmad Saliman (1996 : 25 : 27) berdasarkan peranannya di dalam alur cerita tokoh dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam yakni : 1. Antagonis, tokoh utama berprilaku jahat, 2. Protagonis, tokoh utama berprilaku baik, 3. Tritagonis, tokoh yang berperanan sebagai tokoh pembantu. Selain itu, masih menurut Akhmad Saliman (1996 : 27) berdasarkan fungsinya di dalam alur cerita tokoh dapat diklasifikasi menjadi 3 macam juga, yakni : 1. Sentral, tokoh yang berfungsi sebagai penentu gerakan alur cerita, 2. Utama, tokoh yang berfungsi sebagai pendukung tokoh antagonis atau protagonis, 3. Tokoh pembantu, tokoh yang berfungsi sebagai pelengkap penderita dalam alur cerita.
Masih berkaitan dengan tokoh ini, ada istilah yang lajim digunakan yakni penokohan dan teknik penokohan. Penokohan merujuk kepada proses penampilan tokoh yang berfungsi sebagai pembawa peran watak tokoh cerita dalam drama. Sedangkan teknik penokohan adalah teknik yang digunakan penulis naskah lakon, sutradara, atau pemain dalam penampilan atau penempatan tokoh-tokoh wataknya dalam drama.
Teknik penokohan dilakukan dalam rangka menciptakan citra tokoh cerita yang hidup dan berkarakter. Watak tokoh cerita dapat diungkapkan melalui salah satu 5 teknik di bawah ini. 1. Apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dikehendaki tentang dirinya atau tentang diri orang lain. 2. Lakuan, tindakan, 3. Cakapan, ucapan, ujaran, 4. Kehendak, perasaan, pikiran, 5. Penampilan fisik.
Tokoh watak atau karakter dalam drama adalah bahan baku yang paling aktif dan dinamis sebagai penggerak alur cerita. Para tokoh dalam drama tidak hanya berfungsi sebagai penjamin bergeraknya semua peristiwa cerita, tetapi juga berfungsi sebagai pembentuk, dan pencipta alur cerita. Tokoh demikian disebut tokoh sentra (Saliman, 1996 : 33).
Penokohan, gerak, dan cakapan adalah tiga komponen utama yang menjadi dasar terjadinya konflik (tikaian) dalam drama. Pada hakekatnya, konflik (tikaian) merupakan unsur instrinsik yang harus ada di dalam sebuah drama.
Tokoh cerita dalam drama dapat diwujudkan dalam bentuk 3 dimensi, meliputi . 1. Dimensi fisiologi, yakni ciri-ciri fisik yang bersifat badani atau ragawi, seperti usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, ciri wajah, dan ciri-ciri fisik lainnya. 2. Dimensi psikologi, yakni ciri-ciri jiwani atau rohani, seperti mentalitas, temperamen, cipta, rasa, karsa, IQ, sikap pribadi, dan tingkah laku. 3. Dimensi sosiologis, yakni ciri-ciri kehidupan sosial, seperti status sosial, pekerjaan, jabatan, jenjang pendidikan, kehidupan pribadi, pandangan pribadi, sikap hidup, perilaku masyarakat, agama, ideologi, sistem kepercayaan, aktifitas sosial, aksi sosial, hobby pribadi, organisasi sosial, suku bangsa, garis keturunan, dan asal usul sosial.
Sabtu, 20 November 2010
Pentingnya Studi Kelayakan Usaha
A. Pentingnya Studi Kelayakan Usaha
Sebelum bisnis baru dimulai atau dikembangkang, harus diadakan penelitian tentang apakah bisnis yang akan dirintis atau dikembangkan menguntungkan atau tidak. Ada dua studi atau analisis yang dapat dilakukan untuk mengetahui layak atau tidaknya suatu bisnis untuk dimulai dan dikembangkan yaitu:
1) Studi kelayakan usaha
2) Analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.
Studi kelayakan usaha atau disebut juga analisis proyek bisnis adalah penelitian tentang layak atau tidaknya suatu bisnis dilaksanakan dengan menguntungkan secara terus-menerus. Studi ini pada dasarnya membahas berbagai konsep dasar yang berkaitan dengan keputusan dan proses pemilihan, proses bisnis agar mampu memberikan mamfaat ekonomis dan sepanjang waktu. Dalam studi ini, pertimbangan ekonomis dan teknis sangat penting karena akan dijadikan dasar implementasi kegiatan usaha.
Hasil studi kelayakan usaha pada prinsipnya bisa digunakan antara lain untuk:
1) Merintis usaha baru, misalnya membuka toko, membangun pabrik, mendirikan perusahaan jasa, dan lain-lain.
2) Mengembangkan usaha yang sudah ada, misalnya untuk menambah kapasitas pabrik, memperluas skala usaha, mengganti peralatan/mesin, memperluas cakupan usaha, dan lain-lain.
3) Memilih jenis usaha atau investasi/proyek yang paling menguntungkan, misalnya pilihan usaha dagang, pilihan usaha barang atau jasa, pabrikasi atau perakitan, dan lain-lain.
Adapun pihak yang memerlukan dan berkepentingan dengan studi kelayakan usaha di antaranya:
1) Pihak wirausaha (pemilik perusahaan). Memulai bisnis atau mengembangkan bisnis yang sudah ada barang tentu memerlukan pengorbanan yang cukup besar dan selalu dihadapkan pada ketidakpastian. Dalam kewirausahaan, studi kelayakan usaha sangat penting dilakukan agar kegiatan usaha tidak mengalami kegagalan dan memberi keuntungan sepanjang waktu.
2) Investor dan penyumbang dana. Studi kelayakan usaha penting untuk memilih jenis investasi yang paling menguntungkan dan sebagai jaminan atas modal yang ditanamkan atau dipinjamkan, apakah investasi yang dilakukannya memberikan jaminan pengembalian investasi yang memadai atau tidak.
3) Masyarakat dan pemerintah. Bagi masyarakat, studi kelayakan sangat diperlukan untuk bahan kajian apakah usaha yang didirikan memberikan mamfaat bagi masyarakat dan bagi pemerintah studi kelakan sebagai alat pertimbangan untuk pengluaran izin usaha.
B. Proses dan Tahap Studi Kelayakan
Studi kelayakan usaha dapat dilakukan melalui tahap-tahap berrikut:
a. Tahap panamuan ide atau perumusan gagasan
Tahap penentuan ide adalah tahap dimana wirausaha memiliki ide untuk merintis usaha barunya. Ide tersebut kemudian dirumuskan dan diidentifikasi.misalnya kemungkinan bisnis yang paling memberikan peluang untuk dilakukan dan menguntungkan dalam jangka waktu panjang. Banyak kemungkinannya, misalnya bisnis industri,perakitan, perdagangan usaha jasa, atau jenis usaha lainnyayang dianggap paling layak.
b. Tahap formulir tujuan
Tahap ini adalah perumusan visi dan misi bisnis, seperti visi dan misi bisnis yang hendak diemban setela bisnis tersebut diidentifikasi.apakah misalnya untuk menciptakan barang dan jasa yang sangat diperlukan masyarakat sepanjang waktu ataukah untuk menciptakan keuntungan yang langgeng, atau apakah Visi dan Misi bisnis yang dapat dikembangkan tersebut benar-benar menjadi kenyataan atau tidak? Semuanya dirumuskan dalam bentuk tujuan.
c. Tahap analisis
Tahap penelitian yaitu proses sistematis yang dilakukan untuk membuat suatu keputusan apakah bisnis itu layak dilaksanakan atau tidak. Tahapan ini dilakukan seperti prosedur penelitian ilmiah lainnya, yaitu dimulai dengan mengumpulkan data, mengolah, menganalisis dan menarik kesimpulan. Kesimpulan dalam study kelayakanusaha hanya dua,yaitu dilaksanakan atau tidak.
d. Tahap keputusan
Setelah dievaluasi, dipelajari, dianalisis, dan hasilnya meyakinkan, maka langkah berikutnya adalah tahap pengambilan keputusan apakah bisnis tersebut layak dilaksanakan atau tidak. Karena menyangkut keperluan untuk investasi yang mengandung resiko, maka keputusan bisnis biasanya berdasarkan beberapa krtiteria, seperti periode pembayaran kembali ( Pay Back Period – PBP ), nilai sekarang bersih ( Net Presnt Value – NPV ), Tingkat pengembalian unternal ( Internal Rate of Return – IRR ), dan sebagainya.
Secara ringkas, proses studi kelayakan dapat digambarkan sebagai berikut :
C. Analisis Kelayakan Usaha
Berikut ini akan dibahas beberapa criteria yang dapat dijadikan aspek penelitian yaitu antara lain:
a. Analisis aspek pemasaran
Dalam analisis pasar, biasanya terdapat beberapa komponen yang harus dianalisis dan dicermati, diantaranya:
1) Kebutuhan dan keinginan konsumen. Jika kebutuhan dab keinginan mereka teridentifikasi dan memungkinkan terpenuhi, berarti peluang pasar bisnis kita terbuka dan layak.
2) Segmentasi pasar. Jika segmentasi pasar teridemtifikasi, maka pasar sasaran akan dapat terwujud dan tercapai.
3) Target. Target pasar menyangkut banyaknya konsumen yang dapat diraih. Jika konsumen loyal, maka potensi pasar tinggi.
4) Nilai tambah. Wirausaha harus mengrtahui nilai tambah produk dan jasa pada setiap rantai pemasaran mulai dari pemasok, agen, hingga komsumen akhir. Dengan mengetahui nilai tambah setiap rantai pemasaran, maka nilai tambah bisnis akan diketahui tinggi atau rendah.
5) Masa hidup produk. Harus dianalisis apakah masa hidup produk dan jasa bertahan lama atau tidak. Jika masa produk lebih lama berarti potensi pasar tinggi.
6) Struktur pasar. Harus dianalisis apakah barang dan jasa yang akan dipasarkan termasuk pasar pesaingan tidak sempurna atau pasar persaingan sempurna.
7) Persaingan dan strategi pesaing. Harus dianalisis apakah tingkat persaingan tinggiatau rendah. Jika persaingan tinggi, berarti peluang pasar rendah.
8) Ukuran pasar. Ukuran pasar dapat dianalisis dari volume penjualan. Jika volume penjualan tinggi, berarti pasar potensial.
9) Pertumbuhan pasar Pertumbuhan pasar dapat dianalisis dari pertumbuhan volume penjualan. Jika pertumbuhan pasar tinggi (misalnya lebih dari 20%), berarti potensi pasar tinggi
10) Laba kotor. Apakah perkiraan margin laba kotor tinggi atau rendah? Jika profit margin kotor lebih dari 20%, berarti pasar potensial.
11) Pngsa pasar. Pangsa pasar bisa dianalisis dari selisih jumlah barang dan jasa yang diminta dengan jumlah barang jasa yang ditawarkan.
.
b. Analisis aspek produksi/operasi
Beberapa unsure dari aspek produksi/operasi yang harus dianalisis adalah:
1) Lokasi operasi. Untuk bisnis hendaknya dipilih lokasi yang paling strategis dan efisien, baik bagi perusahaan itu sendiri maupun bagi pelanggannya.
2) Volume operasi. Volume operasi harus relevan dengan potensi pasar dan prediksi permintaan, sehingga tidak terjadi kelebihan dan kekurangan kapasitas.
3) Mesin dan peralatan. Mesin dan peralatan harus sesuai dengan perkembangan teknologi.
4) Bahan baku dan bahan penolong. Bahan baku dan bahan penolong serta sumber daya yang diperlukan harrus cukup tersedia.
5) Tenaga kerja. Jumlah dan kualifikasi karyawan harus dasesuaikan dengan keperluan jam kerja dan kualifikasi pekerjaan untuk menyelesaikannya.
6) Tata letak. Tata letak berbagai fasilitas operasi harus praktis sehingga dapat mendukung proses produksi.
c. Analisis aspek manajeman
Dalam menganalisis aspek manajemen, terdapat beberapa unsure yang harus dianalisis, seperti:
1) Kepemilikan.Apakah unit bisnis yang akan didirikan milik pribadi (perseorangan) atau milik bersama (seperti CV, PT, dan bentuk badan lainnya).
2) Organisasi. Jenis organisasi apa yang diperlukan? Apakah organisasi lini, staf, lini dan staf, atau bentuk lainnya.
3) Tim manajemen. Apakah bisnia akan dikelola sendiri atau melibatkan orang lain secara profosional.
4) Karyawan. Karyawan harus disesuaikan dengan jumlah dan kualifikasi yang diperlukan.
d. Analisis aspek keuangan
Analisis aspek keuangan meliputi komponen-komponen sebagai berikut:
1) Kebutuhan dana, yaitu kebutuhan kebutuhan dana untuk organisasi
2) Sumber dana. Ada beberapa dana yang layak digali, yaitu sumber dana internal (misalnya modal disetor dan laba ditahan) daan modal eksternal (misalnya penerbitan obligasi dan pinjaman)
3) Proyeksi neraca. Sangat penting untuk mengetahui kelayakan perusahaan, serta kondisi keuangan lainnya.
4) Proyeksi laba rugi. Proyeksi laba rugi dari tahun ke tahun menggambarkan perkiraan laba atau rugi dimasa yang akan dating.
5) Proyeksi arys kas. Dari arus kas dapat dilihat kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban-kewajiban keuangannya.
D. Kriteria Investasi
Untuk mengetahui layak atau tidaknya suatu investasi yng dilakukan dan menguntungkan secara ekonomis, dipergunakan empat kriteria yaitu:
a. Priode pembayaran kembali
Priode pembayaran kembali sangat penting untukmenghutung jangka waktu pengembalian modal. Semakin cepat priode pembayaran kembalinya, maka semakin baik bisnis tersebut. Periode pembayaran kembali adalah periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi
b. Kriteria nilai sekarang
Perlu diperhatikan bahwa nilai uang sebagai mamfaat ekononi dari usaha yang diperkirakan akan diterima di masa yang akan datang tidak sama dengannilai uang yang diterima sekarang karena adanya faktor suku bunga dan besarnya biaya yang dianalisis sepanjang waktu. Oleh sebab itu, dalam studi kelayakan usaha, unsur waktu dan suku bunga harus diperhitungkan.
c. Kriteria tingkat pengembalian internal
Tingkat pengembalian internal (internal rate of return-IRR) adalah tingkat bunga (interest ate-i) yang membuat nilai sekarang bersih (net present value-NPV) menjadi nol atau disebut juga indeks profitabilitas(profitability indeks- PI)
E. Penyusunan Studi Kelayakan Usaha
Setelah menganalisis bebagai aspek bisnis secermat mungkin dan hasilnya secara ekonomis dinyatakan layak, maka langkah selanjutnya adalah menyusun laporan studi kelayakan. Sistematika laporan studi kelayakan pada umumnya berisi:
RINGKASAN PROYEK
BAB I PENDAHULUAN
• Dasar gagasan membuka bisnis baru/pengembangan bisnis
• Nama dan alamat perusahaan
• Bidang usaha
• Bentuk perusahaan
• Gambaran perkembangan perusahaa
BAB II PROFIL PERUSAHAAN DEWASA INI
• Gambaran umum perusahaan
• Perizinan
• Aspek teknik produksi/operasi
• Aspek pemasaran
• Aspek manajemen
• Aspek keuangan
BAB III PROYEK YANG DIUSULKAN
• Proyek yang diusulkan
Sifat imvestasi
Jenis produk
• Aspek teknis
Sifat proyek
Jenis dan jumla produksi
Lokasi
Bangunan
Mesin dan peralatan
Tata letak proses
Proses produksi
Kapasitas produksi
Bahan baku dan bahan penolong
Tenaga
• Aspek pemasaran
Peluang pasar
Segmentasi pasar
Sasaran pasar
Volume dan harga penjualan
Masa hidup produk
Struktur pasar
Persaingan dan strategi bersaing
Ukuran pasar dan pertumbuhannya
Pangsa pasar
Margin laba kotor
• Aspek manajemen
Kepemilikan
Struktur organisasi
Tim manajemen
Tenaga kerja/karyawan
• Aspek keuangan
Kebutuhan dana
Sumber dana
Prediksi pendapatan
Prediksi biaya
Prediksi laba rugi
Kriteria investasi
RINGKASAN
ANALISIS BISNIS DAN
STUDY KELAYAKAN USAHA
MAHMUD 0232300
ZAENAL 023250002
HERWINSYAH 0232500
JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2007
Sebelum bisnis baru dimulai atau dikembangkang, harus diadakan penelitian tentang apakah bisnis yang akan dirintis atau dikembangkan menguntungkan atau tidak. Ada dua studi atau analisis yang dapat dilakukan untuk mengetahui layak atau tidaknya suatu bisnis untuk dimulai dan dikembangkan yaitu:
1) Studi kelayakan usaha
2) Analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.
Studi kelayakan usaha atau disebut juga analisis proyek bisnis adalah penelitian tentang layak atau tidaknya suatu bisnis dilaksanakan dengan menguntungkan secara terus-menerus. Studi ini pada dasarnya membahas berbagai konsep dasar yang berkaitan dengan keputusan dan proses pemilihan, proses bisnis agar mampu memberikan mamfaat ekonomis dan sepanjang waktu. Dalam studi ini, pertimbangan ekonomis dan teknis sangat penting karena akan dijadikan dasar implementasi kegiatan usaha.
Hasil studi kelayakan usaha pada prinsipnya bisa digunakan antara lain untuk:
1) Merintis usaha baru, misalnya membuka toko, membangun pabrik, mendirikan perusahaan jasa, dan lain-lain.
2) Mengembangkan usaha yang sudah ada, misalnya untuk menambah kapasitas pabrik, memperluas skala usaha, mengganti peralatan/mesin, memperluas cakupan usaha, dan lain-lain.
3) Memilih jenis usaha atau investasi/proyek yang paling menguntungkan, misalnya pilihan usaha dagang, pilihan usaha barang atau jasa, pabrikasi atau perakitan, dan lain-lain.
Adapun pihak yang memerlukan dan berkepentingan dengan studi kelayakan usaha di antaranya:
1) Pihak wirausaha (pemilik perusahaan). Memulai bisnis atau mengembangkan bisnis yang sudah ada barang tentu memerlukan pengorbanan yang cukup besar dan selalu dihadapkan pada ketidakpastian. Dalam kewirausahaan, studi kelayakan usaha sangat penting dilakukan agar kegiatan usaha tidak mengalami kegagalan dan memberi keuntungan sepanjang waktu.
2) Investor dan penyumbang dana. Studi kelayakan usaha penting untuk memilih jenis investasi yang paling menguntungkan dan sebagai jaminan atas modal yang ditanamkan atau dipinjamkan, apakah investasi yang dilakukannya memberikan jaminan pengembalian investasi yang memadai atau tidak.
3) Masyarakat dan pemerintah. Bagi masyarakat, studi kelayakan sangat diperlukan untuk bahan kajian apakah usaha yang didirikan memberikan mamfaat bagi masyarakat dan bagi pemerintah studi kelakan sebagai alat pertimbangan untuk pengluaran izin usaha.
B. Proses dan Tahap Studi Kelayakan
Studi kelayakan usaha dapat dilakukan melalui tahap-tahap berrikut:
a. Tahap panamuan ide atau perumusan gagasan
Tahap penentuan ide adalah tahap dimana wirausaha memiliki ide untuk merintis usaha barunya. Ide tersebut kemudian dirumuskan dan diidentifikasi.misalnya kemungkinan bisnis yang paling memberikan peluang untuk dilakukan dan menguntungkan dalam jangka waktu panjang. Banyak kemungkinannya, misalnya bisnis industri,perakitan, perdagangan usaha jasa, atau jenis usaha lainnyayang dianggap paling layak.
b. Tahap formulir tujuan
Tahap ini adalah perumusan visi dan misi bisnis, seperti visi dan misi bisnis yang hendak diemban setela bisnis tersebut diidentifikasi.apakah misalnya untuk menciptakan barang dan jasa yang sangat diperlukan masyarakat sepanjang waktu ataukah untuk menciptakan keuntungan yang langgeng, atau apakah Visi dan Misi bisnis yang dapat dikembangkan tersebut benar-benar menjadi kenyataan atau tidak? Semuanya dirumuskan dalam bentuk tujuan.
c. Tahap analisis
Tahap penelitian yaitu proses sistematis yang dilakukan untuk membuat suatu keputusan apakah bisnis itu layak dilaksanakan atau tidak. Tahapan ini dilakukan seperti prosedur penelitian ilmiah lainnya, yaitu dimulai dengan mengumpulkan data, mengolah, menganalisis dan menarik kesimpulan. Kesimpulan dalam study kelayakanusaha hanya dua,yaitu dilaksanakan atau tidak.
d. Tahap keputusan
Setelah dievaluasi, dipelajari, dianalisis, dan hasilnya meyakinkan, maka langkah berikutnya adalah tahap pengambilan keputusan apakah bisnis tersebut layak dilaksanakan atau tidak. Karena menyangkut keperluan untuk investasi yang mengandung resiko, maka keputusan bisnis biasanya berdasarkan beberapa krtiteria, seperti periode pembayaran kembali ( Pay Back Period – PBP ), nilai sekarang bersih ( Net Presnt Value – NPV ), Tingkat pengembalian unternal ( Internal Rate of Return – IRR ), dan sebagainya.
Secara ringkas, proses studi kelayakan dapat digambarkan sebagai berikut :
C. Analisis Kelayakan Usaha
Berikut ini akan dibahas beberapa criteria yang dapat dijadikan aspek penelitian yaitu antara lain:
a. Analisis aspek pemasaran
Dalam analisis pasar, biasanya terdapat beberapa komponen yang harus dianalisis dan dicermati, diantaranya:
1) Kebutuhan dan keinginan konsumen. Jika kebutuhan dab keinginan mereka teridentifikasi dan memungkinkan terpenuhi, berarti peluang pasar bisnis kita terbuka dan layak.
2) Segmentasi pasar. Jika segmentasi pasar teridemtifikasi, maka pasar sasaran akan dapat terwujud dan tercapai.
3) Target. Target pasar menyangkut banyaknya konsumen yang dapat diraih. Jika konsumen loyal, maka potensi pasar tinggi.
4) Nilai tambah. Wirausaha harus mengrtahui nilai tambah produk dan jasa pada setiap rantai pemasaran mulai dari pemasok, agen, hingga komsumen akhir. Dengan mengetahui nilai tambah setiap rantai pemasaran, maka nilai tambah bisnis akan diketahui tinggi atau rendah.
5) Masa hidup produk. Harus dianalisis apakah masa hidup produk dan jasa bertahan lama atau tidak. Jika masa produk lebih lama berarti potensi pasar tinggi.
6) Struktur pasar. Harus dianalisis apakah barang dan jasa yang akan dipasarkan termasuk pasar pesaingan tidak sempurna atau pasar persaingan sempurna.
7) Persaingan dan strategi pesaing. Harus dianalisis apakah tingkat persaingan tinggiatau rendah. Jika persaingan tinggi, berarti peluang pasar rendah.
8) Ukuran pasar. Ukuran pasar dapat dianalisis dari volume penjualan. Jika volume penjualan tinggi, berarti pasar potensial.
9) Pertumbuhan pasar Pertumbuhan pasar dapat dianalisis dari pertumbuhan volume penjualan. Jika pertumbuhan pasar tinggi (misalnya lebih dari 20%), berarti potensi pasar tinggi
10) Laba kotor. Apakah perkiraan margin laba kotor tinggi atau rendah? Jika profit margin kotor lebih dari 20%, berarti pasar potensial.
11) Pngsa pasar. Pangsa pasar bisa dianalisis dari selisih jumlah barang dan jasa yang diminta dengan jumlah barang jasa yang ditawarkan.
.
b. Analisis aspek produksi/operasi
Beberapa unsure dari aspek produksi/operasi yang harus dianalisis adalah:
1) Lokasi operasi. Untuk bisnis hendaknya dipilih lokasi yang paling strategis dan efisien, baik bagi perusahaan itu sendiri maupun bagi pelanggannya.
2) Volume operasi. Volume operasi harus relevan dengan potensi pasar dan prediksi permintaan, sehingga tidak terjadi kelebihan dan kekurangan kapasitas.
3) Mesin dan peralatan. Mesin dan peralatan harus sesuai dengan perkembangan teknologi.
4) Bahan baku dan bahan penolong. Bahan baku dan bahan penolong serta sumber daya yang diperlukan harrus cukup tersedia.
5) Tenaga kerja. Jumlah dan kualifikasi karyawan harus dasesuaikan dengan keperluan jam kerja dan kualifikasi pekerjaan untuk menyelesaikannya.
6) Tata letak. Tata letak berbagai fasilitas operasi harus praktis sehingga dapat mendukung proses produksi.
c. Analisis aspek manajeman
Dalam menganalisis aspek manajemen, terdapat beberapa unsure yang harus dianalisis, seperti:
1) Kepemilikan.Apakah unit bisnis yang akan didirikan milik pribadi (perseorangan) atau milik bersama (seperti CV, PT, dan bentuk badan lainnya).
2) Organisasi. Jenis organisasi apa yang diperlukan? Apakah organisasi lini, staf, lini dan staf, atau bentuk lainnya.
3) Tim manajemen. Apakah bisnia akan dikelola sendiri atau melibatkan orang lain secara profosional.
4) Karyawan. Karyawan harus disesuaikan dengan jumlah dan kualifikasi yang diperlukan.
d. Analisis aspek keuangan
Analisis aspek keuangan meliputi komponen-komponen sebagai berikut:
1) Kebutuhan dana, yaitu kebutuhan kebutuhan dana untuk organisasi
2) Sumber dana. Ada beberapa dana yang layak digali, yaitu sumber dana internal (misalnya modal disetor dan laba ditahan) daan modal eksternal (misalnya penerbitan obligasi dan pinjaman)
3) Proyeksi neraca. Sangat penting untuk mengetahui kelayakan perusahaan, serta kondisi keuangan lainnya.
4) Proyeksi laba rugi. Proyeksi laba rugi dari tahun ke tahun menggambarkan perkiraan laba atau rugi dimasa yang akan dating.
5) Proyeksi arys kas. Dari arus kas dapat dilihat kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban-kewajiban keuangannya.
D. Kriteria Investasi
Untuk mengetahui layak atau tidaknya suatu investasi yng dilakukan dan menguntungkan secara ekonomis, dipergunakan empat kriteria yaitu:
a. Priode pembayaran kembali
Priode pembayaran kembali sangat penting untukmenghutung jangka waktu pengembalian modal. Semakin cepat priode pembayaran kembalinya, maka semakin baik bisnis tersebut. Periode pembayaran kembali adalah periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi
b. Kriteria nilai sekarang
Perlu diperhatikan bahwa nilai uang sebagai mamfaat ekononi dari usaha yang diperkirakan akan diterima di masa yang akan datang tidak sama dengannilai uang yang diterima sekarang karena adanya faktor suku bunga dan besarnya biaya yang dianalisis sepanjang waktu. Oleh sebab itu, dalam studi kelayakan usaha, unsur waktu dan suku bunga harus diperhitungkan.
c. Kriteria tingkat pengembalian internal
Tingkat pengembalian internal (internal rate of return-IRR) adalah tingkat bunga (interest ate-i) yang membuat nilai sekarang bersih (net present value-NPV) menjadi nol atau disebut juga indeks profitabilitas(profitability indeks- PI)
E. Penyusunan Studi Kelayakan Usaha
Setelah menganalisis bebagai aspek bisnis secermat mungkin dan hasilnya secara ekonomis dinyatakan layak, maka langkah selanjutnya adalah menyusun laporan studi kelayakan. Sistematika laporan studi kelayakan pada umumnya berisi:
RINGKASAN PROYEK
BAB I PENDAHULUAN
• Dasar gagasan membuka bisnis baru/pengembangan bisnis
• Nama dan alamat perusahaan
• Bidang usaha
• Bentuk perusahaan
• Gambaran perkembangan perusahaa
BAB II PROFIL PERUSAHAAN DEWASA INI
• Gambaran umum perusahaan
• Perizinan
• Aspek teknik produksi/operasi
• Aspek pemasaran
• Aspek manajemen
• Aspek keuangan
BAB III PROYEK YANG DIUSULKAN
• Proyek yang diusulkan
Sifat imvestasi
Jenis produk
• Aspek teknis
Sifat proyek
Jenis dan jumla produksi
Lokasi
Bangunan
Mesin dan peralatan
Tata letak proses
Proses produksi
Kapasitas produksi
Bahan baku dan bahan penolong
Tenaga
• Aspek pemasaran
Peluang pasar
Segmentasi pasar
Sasaran pasar
Volume dan harga penjualan
Masa hidup produk
Struktur pasar
Persaingan dan strategi bersaing
Ukuran pasar dan pertumbuhannya
Pangsa pasar
Margin laba kotor
• Aspek manajemen
Kepemilikan
Struktur organisasi
Tim manajemen
Tenaga kerja/karyawan
• Aspek keuangan
Kebutuhan dana
Sumber dana
Prediksi pendapatan
Prediksi biaya
Prediksi laba rugi
Kriteria investasi
RINGKASAN
ANALISIS BISNIS DAN
STUDY KELAYAKAN USAHA
MAHMUD 0232300
ZAENAL 023250002
HERWINSYAH 0232500
JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2007
Langganan:
Postingan (Atom)